Hukum Kriminal

Mengaku Tak Bersalah, Billy Sindoro Memohon Dibebaskan dari Semua Dakwaan

Bandung, BEDAnews

Empat terdakwa pemberi suap dalam perizinan proyek Meikarta menyampaikan pledoi atau nota pembelaan pada sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Rabu (27/2). Sebelumnya, pada sidang pekan lalu, mereka dituntut hukuman berbeda.

Keempat terdakwa yaitu Billy Sindoro dituntut 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan, dan Taryudi dituntut 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Dua terdakwa lain yaitu Fitradjaja Purnama dituntut 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan serta Hendry Jasmen P Sitohang yang dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Salah seorang terdakwa, Billy Sindoro menyampaikan nota pembelaan secara pribadi serta melalui penasihat hukumnya. Dalam pembelaannya, Billy menyatakan fakta persidangan tidak membuktikan dirinya secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan pidana yang didakwakan.

Ia pun memohon Majelis Hakim yang dipimpin Judijanto Hadi Lesmana untuk membebaskannya dari semua dakwaan penuntut umum.

Billy dalam pembelaannya mengaku sangat kaget dan mengalami depresi berat karena tuntutan 5 tahun penjara. Menurutnya, tuntutan itu di luar dugaan dan di luar nalarnya.

"Saya menilai tuntutan ini tidak adil, terlalu berat dan tidak berdasar. Saya mohon Majelis Hakim mencermati fakta persidangan secara utuh dan memberikan putusan yang adil dan tidak membuat saya serta keluarga menderita atas perbuatan yang tidak pernah saya lakukan," paparnya.

Ia menambahkan, dakwaan penuntut umum yang menyatakan dirinya terkait dengan pemberian uang melalui Fitradjaja Purnama dan Hendry Jasmen adalah tidak benar. Pun soal dakwaan keterlibatan dirinya mengatur perizinan proyek Meikarta.

"Itu tidak benar dan saya tidak sependapat. Dakwaan hanya didasarkan dugaan dan asumsi karena saya tidak melakukan perbuatan sebagaimana diuraikan dalam surat dakwaan. Saya tidak pernah memimpin pertemuan maupun pengurusan izin karena hal itu bukan kualifikasi dan passion saya. Selain itu saya bukan eksekutif di Meikarta. Saya adalah advisor untuk Siloam Hospitals," ungkapnya.

Billy juga memohon Majelis Hakim agar mencermati proses persidangan yang tidak pernah membuktikan adanya "Tim Pusat" (Tim Billy Sindoro) yang mengambil alih pengurusan izin Meikarta.

Ia pun memohon hakim mencermati pertemuannya dengan Fitradjaja Purnama dan Hendry Jasmen maupun Edi Dwi Soesianto hanya sekedar obrolan biasa, bukan memimpin rapat tentang perizinan Meikarta.

"Pertemuan saya dengan Bupati Neneng Hasanah Yasin juga tidak bisa dibuktikan di persidangan sebagai upaya mengatur dan memperlancar perizinan Meikarta. Pertemuan kami hanya membicarakan CSR Siloam Hospitals," ungkapnya.

Billy meminta Majelis Hakim mengkaji soal 53 saksi yang dihadirkan, dimana tidak ada satu pun saksi yang menguatkan dakwaan tentang pemberian uang maupun janji. Fakta persidangan, kata Billy, hanya membuktikan Fitradjaja Purnama, Hendry Jasmen dan Taryudi yang melakukan perbuatan sesuai dakwaan akibat adanya pemerasan.

"Tentang dakwaan pemberian uang Rp 16,2 miliar dan 270 ribu dolar Singapura pun dalam persidangan terungkap saya tidak memiliki kaitan. Saya tidak memberikan uang maupun janji. Tentang pemberian uang Rp 10,5 miliar maupun total Rp 16,2 miliar, para saksi juga menyatakan tidak pernah berkomunikasi dengan saya sehingga sangat jelas dan tegas saya tidak memiliki kaitan dengan semua uang dan janji itu," terang Billy.

Terkait dengan sumber uang, Billy juga memohon Majelis Hakim mencermatinya, sebagaimana dijelaskan Fitradjaja Purnama dalam BAP "sudah dianulir".  Fitradjaja menegaskan sumber uang itu sebagai nalar tanpa bukti yang jelas.

Sementara itu Hendry Jasmen menjelaskan sumber uangnya adalah seorang pengusaha di Surabaya yang juga dikenal oleh Fitradjaja. 

Dengan semua fakta yang diuraikannya, Billy memohon kepada Majelis Hakim agar membebaskannya dari dakwaan. Ia pun menyinggung soal usianya yang sudah menginjak 60 tahun, dimana saat ini ia lebih fokus pada pengabdian di bidang kerohanian.

"Tentunya saya sangat sedih membayangkan ribuan orang yang sangat mengharapkan pelayanan saya. Saya sudah bertekad di sisa umur saya untuk membantu program pemerintah khususnya mengentaskan kemiskinan dan kebodohan antara lain dengan menggerakkan bantuan dari komunitas di dalam dan luar negeri," ujarnya.

Dalam pledoinya, Billy juga meminta hakim bisa memahami mengapa dirinya tidak dapat mengakui kesalahan. Menurutnya, hal itu sangat berlawanan dengan nuraninya. Billy menyebut dirinya bukan seseorang yang terkena Operasi Tangkap Tangan. 

Dugaan keterlibatannya hanyalah didasarkan keterangan saksi.

"Oleh karena itu saya mohon Majelis Hakim dapat memutuskan dengan adil dan membebaskan saya.  Karena saya percaya dan yakin bahwa persidangan yang kita jalani ini adalah tempat mencari dan menemukan kebenaran serta keadilan. Lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah," pungkas Billy menutup nota pembelaannya. [mae]
 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close