Ragam

Mensos Minta STKS Kembangkan Paradigma Baru Hadapi Era Revolusi Industri 4.0

Bandung, BEDAnews.
Globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi era revolusi industri 4.0,  perlu dicermati semua pihak termasuk pimpinan dan civitas akademika Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial  (STKS)  Bandung.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasamita  meminta  STKS  sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memproses SDM pekerja sosial profesional, memastikan lulusannya benar-benar memiliki kompetensi dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia yang mampiu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi.

"STKS harus mampu mencetak SDM Pekerja Sosial Profesional yang memiliki kompetensi spesifik seiring dengan perkembangan era revolusi industri 4.0 sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan permasalahan sosial, yang juga berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan perubahan sosial yang terjadi dewasa ini, " kata Mensos dalam orasinya pada acara Dies Natalis STKS ke-54, di Kampus STKS,  Bandung, Rabu (30/1).

Dihadapkan pada perkembangan yang serba cepat tersebut,  Mensos meminta pimpinan dan segenap civitas akademika STKS,  agar terampil beradaptasi,  termasuk perlunya menyusun ulang paradigma pendidikan tinggi.

"Mau tidak mau, STKS Bandung, dengan segenap civitasnya, harus terjadi inovasi dan memiliki paradigma baru pendidikan tinggi vokasi yang terus bertransformasi di era revolusi industri 4.0 ini," kata Mensos.

Mensos berpendapat,  paradigma pendidikan tinggi vokasi di bidang pekerjaan sosial, bisa ditempuh melalui politeknik bermitra dengan pemangku kepentingan (stakeholders) yang konsern dengan kesejahteraan/pekerjaan sosial.

"Era persaingan global saat ini diperlukan profesionalitas dan paradigma baru dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola kelembagaan yang baik, dengan akronim "TARIF" meliputi transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness," kata Mensos.

Perkembangan teknologii era revolusi industri 4.0, kata Mensos, menekankan pada pola digital, artificial intelligence, big data, robotic atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Mensos berpendapat untuk menghadapi tantangan tersebut, pengajaran di perguruan tinggi termasuk di dalamnya pendidikan tinggi pekerjaan sosial, dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan dosen berkualitas.

"Tentu saja, perubahan diperlukan pada  bidang pembelajaran yang mencakup reorientasi kurikulum, pembelajaran daring, inovasi penerapan teknologi digital, dan penerapan teknologi dalam bidang manajerial," ungkapnya.

Untuk itu, perubahan dalam aspek sumber daya manusia menjadi sangat penting, terutama pengembangan kompetensi dosen dalam proses pembelajaran. 

Menurut Mensos, dengan hadirnya revolusi industri 4.0., maka pendidikan tinggi vokasi dalam bentuk politeknik perlu segera mengintegrasikan internet of thing (IoT) dalam kurikulumnya, karena mahasiswa pada umumnya sudah cukup mengenal teknologi komputerisasi.

“Demikian juga metoda pembelajaran, dapat dipertimbangkan dilakukan secara jarak jauh, terutama untuk mata kuliah dengan sasaran pengembangan kecerdasan kognitif. Sedangkan kecerdasan motoris dan kecerdasan afektif sudah saatnya disiapkan dengan teknologi interaktif berbasis IoT jika memungkinkan,” kata Mensos.

Mensos juga berpesan agar substansi pembelajaran perlu mempertimbangkan keseimbangan antara arus globalisasi yang berlangsung sangat pesat di satu sisi, namun nilai-nilai kearifan lokal sesuai karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk harus tetap mewarnai.

“STKS Bandung harus menjadi garda terdepan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia bahkan dalam menyukseskan dan mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan untuk semua, termasuk yang terkait dengan kemiskinan, ketimpangan, iklim, degradasi lingkungan, kemakmuran, dan perdamaian dan keadilan pada tahun 2030,” kata Mensos.

Sementara, Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial (BP3S ) Kementerian Sosial Harry Z. Soeratin menyatakan, acara Dies Natalis STKS Bandung ke 54, sejatinya digelar setiap 20 Desember.

Namun karena tanggal 20 Desember berbarengan dengan peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), maka perayaan Dies Natalis diaksanakan pada akhir Januari.

"Atas pertimbangan tersebut STKS merayakan Dies Natalis ke 54 ini pada 30 Januari 2019 agar bisa diikuti oleh seluruh Civitas Akademika STKS Bandung dan dihadiri oleh para pimpinan Kementerian Sosial, para pemangku kepentingan, para Alumni dan para mantan ketua STKS Bandung," kata Harry.

Saat ini STKS Bandung memiliki Tenaga Pendidik/Dosen sebanyak 71 orang ditambah Tenaga Kependidikan sebanyak 78 orang. Tenaga Pendidik/Dosen terdiri dari Lulusan S3 sebanyak 34 orang (49%) dan lulusan S2 sebanyak 37 orang (51%).

"Dari 34 Dosen yang telah meraih gelar doktor, sebanyak 20 orang adalah lulusan pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial, selebihnya adalah lulusan dalam bidang Pendidikan, Sosiologi, Psikologi dan Kesejahteraan Keluarga," ujar dia.

Dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidik/Dosen di STKS Bandung ke depan, saat ini juga sedang dipersiapkan sebanyak 7 (tujuh) calon Dosen melalui kegiatan magang dan 5 orang calon dosen CPNS.

Selain itu juga sebanyak 5 orang dosen STKS Bandung sedang mengikuti pendidikan doktoral jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran Bandung, terdiri dari satu orang Tugas Belajar (TB) dan 4 orang Ijin Belajar (IB). 

Selain itu, STKS juga sedang mempersiapkan 18 orang Lektor Kepala yang diharapkan untuk segera menjadi Profesor. 

Mahasiswa aktif STKS Bandung pada tahun 2018 ini sebanyak 1.606 orang, terdiri dari Program Studi Sarjana Terapan sebanyak 1.564 orang, Program Pascasarjana Spesialis-1 dan Program Studi Magister Terapan Pekerjaan Sosial sebanyak 42 orang.

"Tahun 2019 ini, STKS Bandung Insya Allah akan mengalami perubahan bentuk menjadi Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung," kata Harry.

Beberapa keuntungan STKS berubah menjadi Politeknik antara lain dapat menyelenggarakan program studi yang sejalan dengan kebutuhan Kemensos, K/L lain serta lulusan diakui keabsahannya, karena tercatat dalam Pangkalan Data Perguruan Tinggi.

Kemudian dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi, mulai dari jenjang Sarjana Terapan, Magister Terapan, sampai Doktor Terapa, dapat menyelenggarakan pendidikan profesi mulai dari profesi, spesialis satu, sampai spesialis dua; Jabatan fungsional dosen dapat mencapai Guru Besar (Profesor).

Dalam acara yang mengambil tema "Inovasi Pendidikan Pekerja Sosial Era Revolusi Industri 4.0" hadir para pejabat teras Kementerian Sosial, pimpinan dan civitas akademika STKS, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Polda Jabar dan Kodam lll/Siliwangi. [lanie]

 

 

Selanjutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close