Regional

Media Sangat Berperan Dalam Pendidikan Politik

Bandung, BEDAnews

Media masa saat ini merupakan memegang peran penting dalam pembelajaran politik bagi masyarakat Indonesia, karena pada orde reformasi ini tidak ada pendidikan politik terstruktur yang dilakukan oleh Pemerintah saat ini.

Demikian diungkapkan Bunyamin Maftuh, Guru Besar FPIPS UPI Bandung, dihadapan peserta diskusi Peran Media massa dalam sosialisasi pendidikan politik di Jawa Barat yang diadakan Oleh Dinas komuniksai dan informatika (Diskominfo) Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, di ruang Arifin Yusuf Diskominfo Jabar Jl. Taman Sari Bandung, Rabu (19/12).

Bunyamin menilai, saat ini masih banyak masayarakat yang kurang memahami system politik secara benar (Polical illieteracy), banyak masyarakat yang masih belum tahu untuk apa mereka datang memberikan suara pada saat pemilu, tuturnya.

Sementara Dede Mulkan, Dosen Jurnalistik Unpad Bandung menyatakan, peran media massa saat ini dalam pembelajaran politik sangat berperan besar, ada empat pengaruh media dalam politik Pilkada bagi masyarakat.

Peran tersebut adalah Pertama Berperan memberi informasi politik kepada masyarakat mengenai prilaku politik calon, track record mereka. Kedua Kontrol masyarakat, media mampu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi politik, sehingga masyarakat bisa mengontrol situasi politik yang ada. Ketiga. Peran utama media adalah memperkuat focus perhatian masyarakat. Dan Ke empat Media juga memiliki kemampuan dalam mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam kampanye politik.

Hal berbeda disampaikan Sahala Tua Saragih, dosen Unpad yang juga mantan wartawan ini yang merasa bahwa saat ini dirinya lebih merasa dicekokin dengan pemberitaan media yang buruk padahal dirinya berlangganan koran untuk menambah pengetahuan.

Sahal juga menyoroti media TV swasta yang cenderung memberikan pengajaran politik yang buruk terhadap masyarakat, dengan memperlihatkan prilaku-prilaku saling memarahi, mengungkap atau menampilkan perusakan kantor-kantor, rumah ibadah, perkelahian massal atau tawuran, demo dan pertengkaran para anggota DPR serta memaki-maki sesama pengacara pembela koruptor, sehingga lambat laun hal ini akan mengendap dalam pikiran masyarakat bahwa prilaku politik di  kita seperti itu.

Selain itu, rekruitmen artis oleh partai politik untuk maju pada Pilgub Jabar, juga merupakan gambaran dan kenyataan gagalnya pendidikan politik oleh partai politik, dimana mereka hanya merekrut artis untuk popularitasnya saja, jelasnya. (hermanto)  

Selanjutnya

Related Articles

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close