Sosok

Terinspirasi Einstein, Cindy Nur Fitri Pilih Jadi Aktivis

Cimahi, BEDAnews

Berbeda dari kebanyakan gadis seusianya, Cindy Nur Fitri, alumni SMA Negeri 2 Cimahi lebih memilih melibatkan diri dalam aktivitas sosial. Tak jarang ia memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, Twitter atau yang lainnya untuk mendukung aktivitas sosialnya. 

Gadis kelahiran Bandung, 21 tahun lalu yang tercatat sebagai salah satu alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Jogyakarta ini, kepada Wartawan BedaNews.com, bercerita pengalamannya melakukan aktivitas social. Berikut catatannya. 

Cindy Nur Fitri, yang dikenal dikalangan teman-temannya dengan sebutan Cindong, mengaku terinspirasi oleh salah seorang ilmuwan dunia Albert Einsten, dari kata-kata einstein: Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value. Dari ucapan ilmuwan dunia itu, maka dirinyapun mengubah prinsip hidupnya dari mengejar materi belaka menjadi ingin memberikan pengaruh positif bagi sekitarnya.

“Setelah aku mendalami apa yang dikatakan Einstein itu, maka prinsip hidup menjadi berubah dari ambisi mengejar materi menjadi berusaha untuk jadi pribadi yang bisa memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” kata lulusan UGM 2012 ini.

Sejak masih mahasiswi, Cindy banyak mengikuti kegiatan di kampusnya. Sekarang, setelah lulus, diapun menyibukkan dirinya membantu LSM Infest Yogyakarta untuk proyek membantu pemberdayaan buruh migran Indonesia, selain sibuk berorganisasi di Asian Law Students Association (ALSA).

Saat ini, dia sedang mempersiapkan seleksi nasional International Client Consultation Competition yang pemenangnya akan dikirim ke Glasgow, Skotlandia untuk mewakili Indonesia.

Dia mengenang, ada aktivitas sosialnya yang hingga kini tak akan pernah terlupakan, saat terjadinya bencana alam meletusnya gunung Merapi beberapa tahun lalu. Bersama teman-temanya, sebut saja Larassita, Kemuning Panggita dan Elvira Purbaningtyas berinsisiatif mengumpulkan buku untuk dismbangkan kepada anak korban pengungsi Merapi. Sekitar akhir 2009 karena terinspirasi seorang teman yang juga membuat gerakan yang sama di Pontianak.

Dengan memanfaatkan jejaring sosial twitter dan facebook, ada beberapa teman yang menyumbang buku bekas maupun baru. Setelah sekitar lima bulan, terkumpul 300- an buku, sayangnya terpotong libur kampus lalu kesibukan kampus jadi tidak dilanjutkan beberapa bulan. Sampai akhirnya ada bencana merapi, salahsatu teman kami Paramesty Larassita menggagas perpustakaan ‘Ceria’  untuk anak-anak korban Merapi di Yogya.

 Akhirnya meski buku belum sampai seribu, buku yang ada bisa disumbangkan untuk anak-anak tersebut. “Alhamdulillah pada bulan November 2010, telah terkumpul kurang lebih 300 buku dan bertepatan dengan terjadinya musibah letusan gunung Merapi di Yogyakarta, seluruh buku disumbangkan untuk menjadi inventaris perpustakaan anak korban pengungsi Merapi,“ sebutnya sambil  mengenang kejadian dua tahun lalu itu.

Ada beberapa kutipan orang terkenal yang menjadi favoritku, seperti RA Kartini tentang pendidikan. “Pendidikan bagi anak perempuan, bukan saingan laki-laki, tetapi agar perempuan lebih cakap menjalankan kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. Atau kutipan Astri Ivo, tugas seorang orang tua itu bukan hanya mengantarkan anaknya hingga ke gerbang wisuda, tapi sampai ke gerbang surga,” ucapnya, mengakhiri obrolan. (Bubun)  

Selanjutnya

Related Articles

One Comment

  1. Kok cuman Sleman aja, kabupaten yang lain mana???selain itu daynata kurang akurat mengenai titik-titiknya, ada beberapa titik yang tidak termuat, mohon BNPB bisa koordinasi dengan PMI, LSM, lembaga swasta, Organisasi PRB, dll, mereka masing-masing punya data yang lebih valid daripada daynata BNPB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close