Hukum

Terdakwa Kasus Penggelapan Toko Mas Mekar Putri Akhirnya Divonis

Garut, BEDAnews

Terdakwa kasus penggelapan toko mas Mekar Putri, Neng Hera Santi, akhirnya divonis 2 tahun 10 bulan penjara atau lebih ringan 4 bulan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Toni Setiawan, yang menuntut Neng Hera Santi 3 tahun penjara, dalam sidang yang digelar di PN Garut belaum lama ini.

Neng Hera secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 372 KUHP yang diancam dengan hukuman penjara 4 tahun.

Modus penggelapan yang dilakukan Neng Hera sendiri, saat masih menjadi karyawan Toko Mas Mekar Putri yaitu Neng Hera tidak melaporkan sebagian uang masuk hasil penjualan mas serta sering menjual mas milik toko emas temannya bekerja kepada calo emas. Atas tindakannya ini, pemilik toko mas Mekar Putri mengalami kerugian 549 gr emas.

Dalam sidang sebelumnya, berdasarkan keterangan saksi yaitu Erwin yang bertugas sebagai satpam, dirinya mengetahui terdakwa sering menjual emas milik hendrik tersebut kepada orang lain tanpa sepengetahuan pihak toko, dengan menyuruh dirinya.

Dengan barang bukti berupa buku keluar masuk barang, buku keluar barang, buku stock, keterangan ahli dari satreskrim polres Garut serta keterangan saksi diantaranya satpam, telah cukup bukti untuk menjerat terdakwa dengan pasal 372 KUHP.

Dari persidangan ini ada beberapa hal yang bisa meringankan hukuman terdakwa, yaitu terdakwa tidak pernah mengalami hukuman sebelumnya, dan mengakui segala kesalahannya.

Adapun hal yang bisa memberatkan hukuman yaitu terdakwa tidak kooperatif dalam persidangan karena dari 277 pernyataan mengenai keluar masuk barang selalu berbelat-belit dengan alasan "salah mencatat dan lupa lagi".

Ada hal yang kurang berkenan di hati pemilik toko mas Mekar Putri, Hendrik, yaitu pada saat pembelaan, penasehat hukum terdakwa menyatakan bahwa saksi yang dihadirkan saat itu yaitu Erwin sebagai satpam disebut sebagai boneka korban yang telah disetting sebelumnya, serta menyatakan bahwa toko mas ini tidak berijin, padahal semua itu tidak benar.

Menurut Hendrik, pernyataan satpam saat itu dibawah sumpah, masa berani berbohong, dan untuk ijin atau SIUP, sejak berdiripun toko mas ini telah memiliki SIUP yang resmi, tegas hendrik sambil memperlihatkan SIUP aslinya kepada wartawan.

Atas vonis tersebut, terdakwa menerimanya dan tidak mengajukan banding, seusai pembacaan vonis terdakwa menangis didepan persidangan yang juga diikuti tangis saudara dan kerabatnya yang ikut hadir menyaksikan sidang. (Yuyus)

Selanjutnya

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close